si enceph : “Renovasi Gedung DPR yang Bermilyar-milyar kok BISA?”
November 15, 2008
wahh,, permainan gobak sodor nyaris terlupakan, atau emang udah dilupakan. emang sih keadaan zaman sekarang ini membuat anak sekarang BEDA dengan anak zaman dulu, bahkan faktor lingkungan yang berkembang tapi ga memperhatikan dampak jangka panjangnya sering dan sedang kita rasakan sekarang ini. SEDIKITNYA TAMAN BERMAIN BAGI ANAK berpengaruh sekali terhadap tumbuh kembang dari anak itu sendiri. permainan-permainan tradisional mulai ditinggalkan karena dianggap kuno dan ga modern. Belum lagi ruang bermain untuk anak juga sangat minim sekali, taman bermain yang ada seperti TAMAN LALU LINTAS pun sangat tidak mudah diakses oleh anak bahkan yang lebih memprihatinkan kita HARUS BAYAR untuk masuknya. Waduh, pemerintah kerjanya apa ya??? untuk MEMBUAT TAMAN BERMAIN GRATIS UNTUK ANAK PUN KAGAK BISA, Tapi buat NGERENOVASI GEDUNG DPR YANG BERMILYAR-MILYAR MAMPU… DAMPAK YANG DITIMBULKAN AKIBAT KURANGNYA TEMPAT BERMAIN ANAK… dan banyak hal yang perlu kita ketahui ketika anak menjadi korban dr ketidakpedulian dan ketidak respek orang terhadap perkebngan anak dr hal yang terkecil, seperti Ruang bermain bagi anak.

Tau ga??
Rata-rata, anak Indonesia bermain selama 2 jam perhari, hampir sama halnya dengan kebanyakan anak dari negara-negara di Asia lainnya, 1 jam lebih singkat dari kebanyakan anak-anak dari negara Amerika dan Eropa Barat. Anak-anak yang tinggal di perumahan, pada umumnya, cenderung bemain dengan teman seusia dalam kelompok kecil (kebanyakan teman sekolah). Mereka cenderung bemain video/komputer game, atau menonton TV di dalam rumah. Padahal di negara lain anak-anak pada umumnya menggemari permainan yang sifatnya olah raga dan TV game secara berimbang.
Peraturan pemerintah atas ruang terbuka hijau kota belum terlaksana sebagaimana mestinya karena belum adanya petunjuk pelaksanaan yang tegas. Akibatnya perhatian terhadap pentingnya pengadaan ruang rekreasi dan bermain untuk anak dan keluarga terutama di lingkungan perumahan menjadi kurang. Rata-rata ruang bermain anak Indonesia adalah 2.000m2/anak, hampir menyamai anak-anak di Tokyo, lebih rendah dari kebanyakan anak-anak di negara-negara berkembang di asia lainnya, dan sangat kecil jika dibandingkan dengan anak-anak dari negara barat (sekitar 10.000 m2/anak).
Hak-hak anak atas ruang bermain itu semakin hari semakin sempit, bukan saja oleh kaki lima atau pembangunan yang tidak berorientasi kepada masa depan anak-anak, melainkan juga pemerintah sama sekali tidak memiliki kebijakan tentang ruang tersebut. Sekolah-sekolah berdiri tanpa halaman, gelanggang remaja dan arena bermain dibuat sangat sedikit, juga tempat rekreasi yang menyediakan ruang bermain bagi anak-anak, orang harus membayar tiket yang relatif mahal. Dari sini kita melihat, pemerintah hanya menginginkan sisi komersial dari setiap pembangunan ruang bermain itu. Bukan semata-mata memberikan hak yang sepatutnya diterima masyarakat, khususnya bagi anak-anak. Tidak heran jika ruang ekspresi itu menjadi salah sasaran, seperti bermain di atap kereta, tawuran antar sekolah, nongkrong di mal, juga kebut-kebutan di jalan.
Nah, bagaimana dengan KITA. Dapatkah kita melakukan sesuatu dalam hal membangun ruang bermain yang Anak-anak disekitar kita inginkan walaupun sebatas halaman kecil yang cukup buat bermain GOBAK SODOR???
Entry Filed under: Uncategorized. .








Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed