Jika Aku Menjadi…
Februari 12, 2009
Jika Aku Menjadi… adalah salah satu realiti show di salah satu stasiun televisi (TRANS TV), setelah melihat beberapa episode yang pernah ditayangkan, saya sempat berpikir dan memposisikan diri jika saya ditanya, jika kamu dilahirkan kamu mau jadi apa, trus jika berandai-andai kamu ingin menjadi seorang apa??
Pernah saya mendapat pertanyaan dari teman saya, Jika harus memilih menjadi politisi atau seniman kamu mau milih mana? Trus saya jawab, yang akan saya pilih adalah keduanya. So, melihat peran dari kedua pilihan sama-sama penting. Menjadi seniman dalam melangkahkan kaki kehidupan tak lepas dari adanya nilai seni yang kerap melibatkan hati, emosi dan pikiran. Tidak sedikit mimpi, ide, harapan dan gagasan dari seorang seniman terlontar untuk menciptakan perubahan positif bagi dirinya maupun orang lain. Namun keberadaan mereka seolah tak dianggap oleh masyarakat karena penampilan mereka yang terkesan urakan.
(iya ga seeh?)
Lain halnya dengan politisi, penampilan yang serba mewah dan kekuasaan yang diperoleh membuat keberadaannya diakui oleh masyarakat. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa kebijakan yang dibuat pemerintah baik itu dalam bentuk Undang-undang maupun peraturan, dalam realita kehidupan banyak yang tidak terealisasi. Itu artinya yang dibutuhkan seorang politisi adalah pelibatan hati, emosi dan pikiran dalam membuat kebijakan sehingga tidak merugikan orang banyak.
Nah, Apabila saya memerankan tokoh dari kedua peran di atas maka yang akan saya lakukan adalah memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki seorang politisi untuk membangun mimpi-mimpi anak Indonesia. Seperti yang kita ketahui anak meruapakan tunas penerus cita-cita bangsa. Membangun mimpi anak Indonesia melalui realisasi yang nyata dan merata dari Undang-undang Perlindungan Anak No.23 Tahun 2002 (UUPA No,23 Tahun 2002). seperti hak untuk mendapatkan pendidikan gratis, identitas berupa akta secara gratis, sarana bermain dan belajar yang mudah diakses, memberikan perlindungan dari diskriminasi, eksploitasi, penelantaran serta memberikan akses bermain dan belajar untuk anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus guna membangun masyarakat yang inklusi.

Membangun sarana dan prasarana bermain dan belajar untuk anak menjadi tujuan utama ketika saya memiliki kekuasaan yang identik dengan adanya uang. Diharapkan dengan adanya tempat untuk mengemukakan pendapat, keinginan, harapan, ide, gagasan dan bentuk partisasi lain menjadikan bakat dan potensi anak bisa tersalurkan. Selanjutnya bagaimana kita melatih para calon pemimpin masa depan ini dengan pendidikan yang menomor satukan kejujuran dan kedisiplinan yang kini jarang terlihat pada pemimpin-peminpin kita.
Sebagai seorang politisi yang memiliki jiwa seni saya akan melibatkan anak-anak dalam pembelajaran pengambilan keputusan, contoh kecil mengajak anak- Indonesia mengunjungi gedung DPR dan membiarkan mereka berekspresi merasakan megahnya gedung, hangatnya kursi DPR yang kerap membuat pemakainya tertidur dan mencoba melakukan advokasi di dalam gedung DPR seperti membahas UUPA No. 23 Tahun 2002. Hal yang sebenarnya mudah dilakukan seorang politisi terasa sulit bagi anak-anak untuk membangun hal itu. Mengunjungi gedung DPR seolah mimpi yang tak pernah tercipta. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membangun kreativitas anak dan jiwa kepemimpinan. Tinggal bagaimana kita mengakses keberadaan mereka.
Entry Filed under: Uncategorized. .
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed










1.
iman | Februari 12, 2009 at 3:16 pm
if u’re a politician, i were voted for u
2.
agunk agriza | Februari 14, 2009 at 4:11 am
zzz..
mending jadi politisi berjiwa seniman dunk
3.
produk perlebahan | Maret 23, 2009 at 8:42 am
kesian ya anak anak indonesia. semoga yang terbaik untuk anak anak deh